Mudik merupakan istilah yang sering kita dengar saat mendekati Hari Lebaran atau hari raya Idul fitri, yang mana Mudik merupakan singkatan bahawa Jawa Mulih dhisik (mudik) dimana artinya adalah pulang dulu.
Sejak adanya pandemi tradisi mudik dilarang oleh pemerintah dikarenakan penyebran virus Covid-19 yang akan di bawa para pemudik menuju ke daerah. Sehingga ketika mudik tahun ini diperbolehkan menjadi kado baik bagi para perantau yang sudah lama tidak melihat kampung halaman. Pemerintah sendiri memperkirakan mudik tahun ini mencapai 85 juta orang. tentu dengan banyak nya para pemudik akan berdampak pada perekonomian daerah dan tentunnya pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan membaik.
Dari Tahun sebelum pandemi, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi pasca Lebaran, Pada Tahun 2019 lebaran terjadi pada kuartal 2 dan pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal tersebut tumbuh + 5 persen. Pada tahun 2020 lebaran terjadi pada kuartal 2 dan pertumbuhan ekonominya mencapai ā 5,32 persen. Kita bandingkan lebaran 2019 dengan lebaran tahun 2020 dimana mudik di batasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal tersebut mengalami penurunan. Dan pada tahun 2021 Badan pusat statistik merillis pertumbuhan ekonomi pasca lebaran + 7,07 persen.
Pada lebaran tahun ini Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian keuangan memprediksi pertumbuhan ekonomi indonesia tumbuh di atas 5 persen, hal ini tentu baik bagi Indonesia karena dapat memertahankan tren positif petumbuhan ekonomi.
Ada beberapa sektor yang terdampak positif dengan adanya mudik lebaran tahun ini.
1.Transportasi, dengan banyaknya jumlah pemudik maka tidak bisa dipungkiri jumlah pengguna transportasi umum juga mengalami kenaikan seperti bus dan travel, pesawat, kereta api, kapal dan lainya.
2.Sektor pariwisata, sektor ini juga mengalami kenaikan karena liburan lebaran yang cukup panjang dapat mendorong para pemudik untuk berwisata dengan keluarga.
3.Sektor perdagangan, penjualan baju dan makanan akan mengalami kenaikan secara masyarakat akan membelanjakan uang nya untuk membeli pakian baru untuk keluarga nya.
Meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk belanja dapat memutarkan roda perekonomian di berbagai daerah di Indonesia.
Tentunya pemerintah juga harus menjaga Inflasi yang akan terjadi mengingat bulan Ramadhan 2022 ini, kenaikan harga komoditas, energi, dan pangan seperti minyak goreng masih cukup tinggi.
Dengan jumlah pemudik yang di perkirakan mencapai 85 juta orang dan rata- rata pemudik membawa uang 1 juta rupiah. Maka dapat di pastikan perputaran uang yang ada mencapai 85 T mungkin bahkan lebih. Bank Indonesia sendiri menyiapkan uang sebesar 176 T untuk kebutuhan masyarakat selama periode ramadhan dan Idul Fitri tahun ini. Daya beli masyarakat tentu nya akan meningkat, sehingga uang yang di bawa para pemudik di harapkan mampu menghidupkan perekonomian yang ada di daerah di seluruh Indonesia.
Sebagai catatan kecil
Pemerintah harus menjaga momen baik ini dengan terus melakukan pencegahan penyebaran virus Covid-19. Dan mendorong masyarakat daerah untuk melakukan vaksin covid 19 agar pandemi segera berakhir. Yang terakhir tentu nya harga-harga komoditi, pangan dan energi yang terus naik tentu nya akan membuat daya beli masyarakat pasca lebaran akan turun tajam. Sehingga membuat perekonomian kembali turun.
(*/jd)
















