AMPAR.ID, JAMBI – Sayyid Fuad bin Abdurrahman Baraqbah dinobatkan menjadi Sultan Jambi generasi ke 4 di Graha Bandara Sultan Thaha, Kamis, (28/7).
“Kita pengen sejarah ini kita coba luruskan, ada manfaat untuk Jambi dan masyarakat kedepannya,” ungkap Sayyid Fuad usai acara penobatan.
Ia juga menyampaikan bahwa perjalanannya hingga dinobatkan sebagai Sultan saat ini, adalah perjalanan panjang yang sudah diteliti keabsahannya.
“Saya lakukan ini lillahitaala karena bagi saya kalo Allah berkehendak tidak ada yang tidak mungkin itu saja prinsipnya. Karena yang seperti ini tidak bisa diakui dan tidak bisa mengaku, jadi apapun yang kita dapatkan dilakukan kajian-kajian dengan keilmuan yang dimiliki oleh peneliti dan ahli sejarah dengan bukti stambuk nasab dan silsilah,” ujarnya.
Lebih lanjut dirinya mengatakan bahwa langkah jangka pendek yang akan dilakukannya adalah bersilaturahmi dengan raja yang ada di Kabupaten Kota serta negara tetangga lainnya.
“Kalo saat ini kita mungkin ke Kabupaten Kota. Alhamdulillah sebelum ini juga sudah kita lakukan termasuk juga menjalin silaturahmi dengan tetangga ke Malaysia, Brunei nantinya,” katanya.
Sementara itu, saat ditanya mengenai ketidakhadiran Gubernur Jambi dan Ketua lembaga adat, dirinya memaklumi seraya mengingatkan peran para Sultan dalam membentuk republik ini.
“Tidak apa-apa itu biasa kita minta supaya dia bisa mengerti kita juga sulit. Tapi ingat Republik ini jadi bersatu karena para Sultan dan raja menyerahkan mandat sehingga jadilah republik ini,” paparnya.
Ia juga menyampaikan, bahwa penobatan sebagai Sultan ini adalah sesuatu yang tidak bisa didapatkan melalui pengakuan. Namun hanya didapatkan melalui garis keturunan.
“Kalo sultan itu Nasab, garis keturunan, Dzuriyyat tidak bisa dengan musyawarah mufakat silakan dikaji. Bagi saya kita akan coba lakukan bedah jadi jangan sampai masyarakat dapat informasi yang salah,” tuturnya.
“Saya silsilah saya dengan stambuk tahun 1900 dari permaisuri istri pertama dari istri Sultan yang ada 15. Dibuktikan dengan cap dari 15 istri ada cap yang menunjukkan buyut saya adalah permaisuri. Kedua ada juga cap pangeran Ratu dan cap kerajaan. Jadi kalo saya bilang ini tidak mungkin bisa dititip bukan dititipkan atau dipinjamkan,” jelasnya.
Soal adanya pihak lain yang juga merasa dirinya sebagai keturunan Sultan, ia menegaskan bahwa silsilah kekeluargaan baginya adalah yang paling utama.
“Kalo saya pribadi tidak ada perseteruan dengan siapapun kalo ada perseteruan silakan saja bagi saya keluarga yang utama,” tutupnya.
(Meli/min)











