AMPAR.ID, JEMBER – Pemerintah Kabupaten Jember mengklarifikasi tuduhan publik terkait program layanan kesehatan Homecare yang dinilai sekadar formalitas dan sebatas foto dokumentasi.
Kepala Puskesmas Kencong, Untung Pujianto, mengonfirmasi bahwa kesalahpahaman muncul akibat masyarakat belum memahami secara utuh alur pemeriksaan medis jemput bola yang telah berjalan sejak Juli 2026 tersebut.
“Pemeriksaan awal di rumah pasien bukanlah akhir dari pelayanan, melainkan langkah awal untuk mendeteksi kondisi kesehatan warga dan menentukan tindakan medis berikutnya,” kata Untung.
Program yang menyasar sekitar 25 ribu keluarga rentan ini ditujukan bagi warga miskin ekstrem, lansia sebatang kara, penyandang disabilitas, ibu hamil berisiko tinggi, penderita penyakit kronis, serta balita berindikasi stunting yang kesulitan mengakses fasilitas medis.
Dalam pelaksanaannya, setiap penerima manfaat memperoleh jadwal kunjungan rutin bulanan.
Tenaga medis yang datang ke rumah warga menjalankan penjangkauan awal sesuai kebutuhan pasien, seperti cek fisik dokter, perawatan luka, pemantauan kehamilan, hingga pemeriksaan menggunakan USG portabel.
Tahapan penanganan medis dibagi dalam beberapa tingkatan.
Pasien dengan masalah kesehatan yang cukup ditangani pada skala fasilitas primer akan langsung menerima pengobatan di tempat.
Sementara itu, pasien yang memerlukan tindakan medis lanjutan atau perawatan intensif langsung dirujuk ke rumah sakit atau fasilitas kesehatan sekunder.
Bagi warga di luar target sasaran utama yang membutuhkan bantuan, laporan dapat dikirimkan melalui saluran Wadul Gus’e atau puskesmas setempat untuk diverifikasi sebelum ditindaklanjuti.
Dari sisi regulasi, pelaksanaan Homecare berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, serta didukung Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 6 Tahun 2024 dan Permenkes Nomor 19 Tahun 2024.
Hambatan jarak, kondisi fisik, maupun faktor sosial tidak boleh menghalangi hak masyarakat untuk mendapatkan akses medis yang layak.
“Keberhasilan program ini tidak diukur dari seberapa banyak foto yang diunggah ke media sosial atau jumlah rumah yang dikunjungi, melainkan dari terdatanya kondisi pasien, teridentifikasinya kebutuhan medis, serta tersedianya tindak lanjut atau rujukan yang tepat,” ujar Untung. (Adv)
















