AMPAR.ID, JAMBI – Masyarakat Jambi diminta untuk lebih selektif dalam menyaring informasi yang beredar di media sosial. Pasca-insiden serangan siber yang menimpa Bank Jambi, muncul dugaan upaya sistematis untuk meruntuhkan kepercayaan publik (downgrading) melalui penyebaran berita bohong atau hoaks.
Pengamat Publik sekaligus Akademisi UIN STS Jambi, Dr. Dedek Kusnadi, M.Si., MM, mengungkapkan bahwa ada empat isu utama yang sengaja dipelintir oleh pihak tak bertanggung jawab untuk menyudutkan bank kebanggaan masyarakat Jambi tersebut.
Dr. Dedek merinci empat poin hoaks yang harus diwaspadai oleh nasabah:
Tudingan Direksi Tak Kompeten: Dedek menyebut ini adalah penggiringan opini yang salah. Faktanya, jajaran direksi Bank Jambi langsung mengambil tanggung jawab penuh dan menjamin keamanan dana nasabah segera setelah insiden terjadi.
Isu Dana Nasabah Hilang: Ini adalah hoaks paling krusial. Manajemen Bank Jambi telah memastikan bahwa seluruh dana nasabah yang terdampak telah kembali utuh ke rekening masing-masing. “Bank Jambi memiliki sistem backup data yang sangat kuat, sehingga pemulihan saldo bisa dilakukan dengan cepat,” jelasnya.
Kasus di Polda Jambi Dipelintir: Muncul narasi seolah Bank Jambi adalah pihak yang bermasalah secara hukum. Padahal, posisi Bank Jambi adalah sebagai Pelapor atau korban yang meminta perlindungan hukum, bukan sebagai terlapor atau pelaku.
Aktivasi ATM dan Mobile Banking: Belum aktifnya layanan digital secara penuh bukan karena kerusakan permanen, melainkan prosedur standar perbankan yang sedang menunggu izin aktivasi dari otoritas keuangan pusat demi memastikan keamanan 100 persen.
Di tengah isu negatif, fakta menunjukkan Bank Jambi tetap menjadi lembaga keuangan yang sangat sehat. Berdasarkan data tahun 2025, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) Bank Jambi mencapai 42,99%, jauh di atas standar minimum Bank Indonesia yang hanya 8%.
Selain itu, tingkat kredit bermasalah (NPL) Bank Jambi hanya sebesar 2,00%, lebih rendah dari rata-rata BPD nasional sebesar 2,4%. Keamanan dana nasabah juga dipastikan karena Bank Jambi adalah peserta penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp2 miliar per nasabah.
“Masyarakat jangan mau diadu domba oleh informasi dari sumber yang tidak jelas. Bank Jambi adalah aset daerah yang fundamentalnya sangat kuat. Serangan siber bisa menimpa bank mana pun di dunia, namun respons cepat dan transparansi yang ditunjukkan manajemen Bank Jambi adalah bukti bahwa mereka kredibel dan sangat bertanggung jawab,” tegas Dr. Dedek.
Ia juga mengingatkan agar nasabah hanya memercayai informasi dari saluran resmi Bank Jambi atau media massa yang telah terverifikasi oleh Dewan Pers.
“Di Jambi hanya ada sekitar 12 media siber yang terverifikasi faktual. Selebihnya harus dicek kembali kredibilitasnya. Jangan sampai ketidaktahuan kita terhadap sistem kerja perbankan dimanfaatkan oleh oknum untuk menyebar ketakutan,” pungkasnya.
Dengan tata kelola yang baik (GCG) dan prestasi Direktur Utama yang masuk dalam daftar Top 100 CEO 2025, Bank Jambi dinilai tetap menjadi pilihan utama yang aman untuk transaksi keuangan dan tabungan masyarakat Jambi. (red/nda)
















