Di dalam perjalanan dakwah, saya sering ditanya jamaah: Ustadz, apakah Allah masih menerima taubat seorang hamba yang pernah berbuat salah di masa lalu, bahkan jika salahnya itu berkaitan dengan amanah publik?
Pertanyaan itu kembali terngiang ketika saya melihat apa yang dialami oleh Ibu Hj. Ernawati, Ketua Ikatan Sarjana Melayu Indonesia Provinsi Jambi hari ini.
Kita semua tahu, beliau pernah diuji dengan kasus PBAQ di tahun 2012. Sebuah ujian yang telah beliau jalani proses hukumnya hingga selesai. Sebuah masa lalu yang secara hukum negara telah dianggap tuntas.
Namun hari ini, ketika beliau bangkit, membangun usaha yang halal di Tanah Suci – Bintang Global Group dengan hotel di Mekkah, katering haji dan umroh, travel dan ticketing – lalu merepatriasikan hasilnya untuk Jambi dengan membiayai 500 anak yatim ekstrem, menyantuni 8 panti asuhan dengan 230 anak, dan memberangkatkan 100 dhuafa untuk umroh gratis, serta meresmikan SPBU Simpang Karmeo Agustus 2026 sebagai sumber dana umat, masih saja ada lisan yang berkata: “Jangan lupakan masa lalunya.”
Maka disini kita perlu kembali ke bingkai agama.
1. Islam Tidak Mengenal Dosa Abadi Bagi Hamba yang Bertaubat.
Allah SWT berfirman dengan begitu indah:
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini turun bukan untuk orang yang suci. Ayat ini turun untuk para pendosa yang melampaui batas. Allah tidak mengatakan “sebagian dosa”, tapi “dosa-dosa semuanya”.
Rasulullah SAW juga bersabda: “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)
Dalam Islam, ketika seorang hamba telah menjalani hukuman atas kesalahannya dan ia bertaubat dengan taubatan nasuha, maka secara langit urusannya selesai dengan Allah, dan secara dunia urusannya selesai dengan negara. Siapakah kita yang kemudian mengadilinya kembali dan menjadikannya dosa abadi?
Jika kita terus mengungkit masa lalu seseorang yang sudah bertaubat, kita sedang mengambil peran yang bukan milik kita. Kita sedang menjadi hakim atas sesuatu yang sudah dihakimi.
2. Tugas Kita Bukan Menjadi Hakim Niat, Tapi Menjadi Saksi Manfaat.
Kaedah agama kita sangat jelas: “Innamal a’malu binniyat.”
Niat itu adalah urusan rahasia antara hamba dengan Rabb-nya. Kita tidak diperintahkan untuk membelah dada Hj. Ernawati untuk melihat niatnya. Itu urusan beliau dengan Allah.
Yang diperintahkan kepada kita adalah melihat manfaatnya. Al-ibrah bil manfa’ah.
Manfaatnya nyata. 500 anak yatim yang datanya disinkronkan dengan Baznas, disekolahkan di Pesantren Darul Tauhid dan PKP Al Hidayah agar rantai kemiskinan ekstremnya putus. 100 jamaah yang akhirnya bisa mencium Hajar Aswad. SPBU yang keuntungannya diniatkan untuk umat.
Jika kita sibuk mencurigai niatnya, kita telah melanggar firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Mencurigai harta beliau sebagai sesuatu yang tidak-tidak tanpa bukti audit, tanpa putusan baru, adalah su’udzon yang dilarang.
3. Adab Melayu Kita: Memuliakan Orang yang Kembali ke Jalan Kebaikan.
Dalam adab Melayu Jambi, kita diajarkan untuk memuliakan orang yang berbuat baik, bukan mengabadikan aibnya.
Khalid bin Walid RA pernah menjadi musuh besar Rasulullah di Perang Uhud. Tapi ketika ia bertaubat dan masuk Islam, Rasulullah tidak memanggilnya “mantan musuh”, beliau memanggilnya “Saifullah – Pedang Allah”.
Itulah Islam. Islam tidak pernah mengabadikan dosa seseorang yang sudah bertaubat.
Hari ini Hj. Ernawati tidak lagi mengelola APBD. Beliau mengelola dana umat dari hasil usaha halalnya di Mekkah untuk dibawa pulang ke Jambi. Ini adalah reverse remittance yang seharusnya kita syukuri. Uang dari Tanah Suci untuk membangun peradaban Melayu.
Jika ada yang masih ragu, datanglah. Pintu yayasannya terbuka, laporan keuangannya bisa diaudit, anak-anak yatimnya bisa ditanya langsung. Jangan biarkan lisan kita menjadi penutup pintu taubat bagi orang lain.
Karena jika taubat saja kita anggap sebagai dosa abadi, lalu kepada siapa lagi manusia harus pulang selain kepada Allah?
Wallahu a’lam bishawab.














