• Ampar
  • Disclaimer
  • Karir
  • Kode Etik
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Redaksi
  • Tentang Kami
Aktual dan Terkini
Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • NEWS
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
  • POLITIK
  • EKBIS
    • OTO & TEKNO
  • HUKUM
    • KABAR TNI – POLRI
  • OPINI
  • TREND
    • SPORT
    • RELIGI
    • HIBURAN & WISATA
    • KESEHATAN
  • JAMBI
  • BENGKULU
    • KAUR
    • LEBONG
    • REJANG LEBONG
    • BENGKULU SELATAN
    • SELUMA
    • KEPAHIANG
    • MUKOMUKO
  • SUMSEL
    • MUSI BANYUASIN
  • JATIM
    • JEMBER
  • LAMPUNG
    • TULANG BAWANG
  • Lainnya..
    • PENDIDIKAN
  • NEWS
    • NASIONAL
    • INTERNASIONAL
  • POLITIK
  • EKBIS
    • OTO & TEKNO
  • HUKUM
    • KABAR TNI – POLRI
  • OPINI
  • TREND
    • SPORT
    • RELIGI
    • HIBURAN & WISATA
    • KESEHATAN
  • JAMBI
  • BENGKULU
    • KAUR
    • LEBONG
    • REJANG LEBONG
    • BENGKULU SELATAN
    • SELUMA
    • KEPAHIANG
    • MUKOMUKO
  • SUMSEL
    • MUSI BANYUASIN
  • JATIM
    • JEMBER
  • LAMPUNG
    • TULANG BAWANG
  • Lainnya..
    • PENDIDIKAN
Berita Terbaru
  • NEWS
  • POLITIK
  • EKBIS
  • HUKUM
  • OPINI
  • TREND
  • JAMBI
  • BENGKULU
  • SUMSEL
  • JATIM
  • LAMPUNG
  • Lainnya..

Lewat Karya “Payung Terakhir” Teater Tonggak Berikan Pesan Menohok Bagi Manusia

14/01/2024
Lewat Karya "Payung Terakhir" Teater Tonggak Berikan Pesan Menohok Bagi Manusia/ (Foto: Hendri)

Lewat Karya "Payung Terakhir" Teater Tonggak Berikan Pesan Menohok Bagi Manusia/ (Foto: Hendri)

PostTweetSend
Dibaca 122

JAMBI, AMPAR.ID – Teater Tonggak Jambi hadirkan pergelaran berjudul Payung Terakhir karya/sutradara Didin Siroz, di Gedung arena Taman Budaya Jambi (TBJ) yang terletak di Jalan Sei Arbai I kawasan Sungaikambang, Telanaipura-Kota Jambi pada 13-14 Januari 2024.

Dua hari Pergelaran Payung Terakhir sukses memberikan kesan membekas bagi penonton atau apresiator yang turut menyaksikan karya tersebut. Sang sutradara tidak hanya memanjakan mata yang memandang, karena penuh warna-warni panggung, payung, suasana sejuk dari hujan buatan, gerakan atraktif, hingga aksi para aktor.

Bukan hanya itu, penonton tidak hanya dibuat terkesan dari pandangan tadi, namun mengajak merenung karena warna-warni payung menjadi simbol yang bermakna diiringi musik, berbalut pencahayaan membuat permainan menjadi tambah apik. Payung Terakhir pun juga terdapat tokoh atau aktor pemeran yaitu Pak Tuo, Tukang Ojek Payung dan seorang lelaki muda bernama Bara.

Tokoh menyuarakan kritik sosial, politik, hukum, hingga kehidupan berbangsa dan bernegara. Menariknya isu lingkungan menjadi kritik paling tajam, karena semakin mengkhawatirkannya kerusakan lingkungan, seperti hutan yang semakin sedikit, kebiasaan sampah yang tidak dikelola dengan baik.

Akibatnya serapan air hujan berkurang bisa menjadi penyebab tanah longsor karena pohon-pohon penyangga yang semakin sedikit, saluran-saluran air yang terganggu menyebabkan tergenang hingga banjir.

Sebelumnya, Payung Terakhir kata Didin Siroz, merupakan Karya yang berangkat dari kegundahannya terhadap kondisi banyak hal di masyarakat.

Bacajuga

Luar Biasa ! Teater Tonggak Sukses Mempersembahkan Pergelaran “Lawan Catur” Oscar Yacob Tewas Setelah Menenggak Racun dan Dusta

“Kita tentu mengamati dan merasakan banyak hal dalam kehidupan, kehidupan sosial, lingkungan, bahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” Ujar Didin Siroz, disela-sela latihan (Kamis, 04/01/2024).

Diapun menguraikan bahwa Payung memiliki banyak makna, arti dan simbol bagi kita. Setiap sisinya tentu juga melakoni peran-peran berbeda dalam kehidupan.

“Payung bisa menjadi simbol pelindung, simbol keagungan, dan banyak lagi tentunya. Nanti tonton saja di panggung, kalau saya sebutkan semua tidak menjadi kejutan dong,” Tuturnya sembari tersenyum.

Jalannya cerita Payung Terakhir, dimulai adanya arakan pengantin sebagai simbol payung upacara adat. Arakan itu dibubarkan oleh hujan, lantas dihadirkan tukang ojek payung yang menjajakan jasanya di tengah musim hujan. Sayangnya dia tidak mendapat perhatian dan tidak satukan warga yang tertarik pada payungnya, hingga lelah dan bertarung melawan hawa dingin.

Lalu para tokoh lain membahas musim hujan yang akan diikuti oleh musim lainnya yaitu Banjir dan tanah longsor. Lalu pambawa payung memasuki panggung yang menggambarkan, bagaimana drama-drama di dunia nyata, bicara demokrasi seperti koalisi partai serta janji-janji politik.

Dalam permainan simbol payung, Sutradara memperlihatkan bagaimana rakyat turut mengikutinya untuk impian dan harapan yang lebih baik, tetapi kekuatan rakyat lebih besar dari semuanya. Unjuk rasa yang dibungkus dengan nilai-nilai artistik dan simbol, menyuarakan serta mengingatkan demokrasi ialah dari rakyat untuk rakyat dan oleh rakyat.

Kemudian, Payung kematian tidak ketinggalan dihadirkan di panggung, payung yang tidak diperebutkan seperti payung warna-warni. Payung yang terkesan malah dihindari, padahal diminta ataupun tidak diminta suka ataupun tidak suka, semua kita akan menggunakan payung itu, karena sifatnya absolut tidak bisa ditawar-tawar, ini merupakan payung terakhir.

Bagian itu, juga memberikan kejutan pada penonton, Didin Siroz hadir di panggung payung terakhir memberikan pesan kematian melalui kata-kata puitis. Disini lagi-lagi pesan tajam untuk direnungkan penonton, kepastian cuma satu yaitu kematian.

Tetapi Didin Siroz selaku pemilik karya sekaligus sutradara masih memberikan pertanyaan dan menyerahkan pada penonton pada penghujung pergelaran, sebab tukang ojek payung harus terkapar ditengah hujan, angin dan petir sembari tertimpa payung rusak.

Tokoh pak tuo menyampaikan dialog penutup juga dengan pertanyaan “Apakah ini payung terakhir mu, nak?” lantas payung terakhir yang dimaksud, payung kematian atau payung rusak yang terakhir menimpa tukang ojek payung?

“Payung bisa menjadi simbol pelindung, simbol keagungan, dan banyak lagi tentunya. Saya hadirkan pesan baik itu yang berupa dialog maupun simbol, apa maknanya? saya serahkan kepada penonton,” Imbuh lelaki yang akrab disapa Abah Didin, seusai pergelaran (Minggu, 14/01/2024).

Payung Terakhir Karya/Sutradara: Didin Siroz, Penata musik: Syahrul Adha dan Ari Wibowo, Penata gerak: Wise Azizah, Penata rias: Liza Lazuarmi, Penata Artistik: Mahendra, Penata cahaya: Fery Apriyan, Penata sistem suara: Verry Ario

Didukung pelaku dalam Payung Terakhir, yaitu Hendry Nursal (sebagai pak tuo), Miftahurrahman (Bara), Ikhsan Avip Pratama (tukang ojek payung) dan Mahendra, Wise azizah, Ari wibowo, Liza lazuarmi, M.Rahul, Sitti arafah, Amarullah Sani, Melisa bella kurnia, R.A khanza nanda qanita, Imelda warni yanti, Indra gunawan, Tri nur armelia, Olenda amelia, Karin priyandini yunisa, Susanthi simanjorang, Julian zakasi syaputra, Silvi ayuni, Zahawa indah ramadhani, Sherend nurul azkiyah, Rahman ade wijaya, Shaira gusti akhila, Yasser gerry, Nuzul ramadhan, M.Ilham habibi, Alfaruqi, Al Furqon sakti HB, M.Habib, Ridwan.

“Saya mewakili keluarga besar Teater Tonggak Jambi, mengucapkan terima kasih untuk semua apresiator yang berkesempatan hadir dan menyaksikan payung terakhir. Terima kasih juga dukungan Disbudpar provinsi Jambi melalui UPTD Taman Budaya Jambi, Rekan media, keluarga besar teater tonggak, keluarga dan para orang tua pemeran, serta semua pihak yang turut terlibat,” Ujar Hendry Nursal, selaku Ketua Teater Tonggak (Minggu, 14/01/2024).

“Tentunya dukungan itu akan menjadi pemacu adrenalin kami di Teater Tonggak untuk terus berkarya, untuk terus memberikan insipirasi sebagai bentuk sumbangsih kami kepada Jambi, kepada masyarakat, kepada bangsa dan negara, sekali lagi terima kasih,” Pungkas Hendry Nursal.

(jp/min)

Kata kunci: Payung TerakhirTeater Tonggak
Berita sebelumnya

Buka Gubernur Cup 2024, Al Haris: Ajang Silaturahmi dan Tingkatkan Prestasi

Berita selanjutnya

Wakil Ketua DPRD Kota Jambi Hadiri Langsung Sertijab Kepala Perwakilan BPK Provinsi Jambi

Berita Terkait

Luar Biasa ! Teater Tonggak Sukses Mempersembahkan Pergelaran “Lawan Catur” Oscar Yacob Tewas Setelah Menenggak Racun dan Dusta

23/11/2020
Berita selanjutnya

Wakil Ketua DPRD Kota Jambi Hadiri Langsung Sertijab Kepala Perwakilan BPK Provinsi Jambi

Edi Purwanto Hadiri Penganugerahan Adat Melayu Jambi Kepada Ahmadi Noor Supit

DPRD Batang Hari Gelar Rapat Paripurna Perdana di Tahun 2024

Edi Purwanto Ketua DPRD Jambi/ (Foto: Alan)

Edi Purwanto Soal Banjir: Dorong Pemerintah Konsepkan Solusi Jangka Panjang

Ketua DPRD Provinsi Jambi Edi Purwanto/ (Foto: Alan/Ampar )

Banjir Belum Surut, Ketua DPRD Jambi ke Pemerintah: Bangun Dapur Umum dan Posko Kesehatan

TERHANGAT

Lirik Lagu Bintang - Anima Band/ (Foto: Cuplikan layar Youtube @AnimaBandOfficialAnima)

Lirik Lagu Bintang – Anima Band

04/02/2024

Ahli Waris Ketua RT Terima Santunan JKM BPJS Ketenagakerjaan

HKI Percepat Pembangunan Jalan Tol Betung-Jambi Seksi 1A, Progress Konstruksi Capai 69%

Penyaluran BLT DD Desa Sumber Makmur Tahun 2026 Tahap 3

Langkah Nyata Pertamina EP Terhadap Penyelesaian Isu Tanah di Kota Jambi

Viral Video Syur Mirip Gisel, Tagar Cowonya Ikut Trending di Twitter

New Honda Vario 125 dengan Penyegaran Warna Baru telah Hadir di Jambi

Mobilitas Makin Praktis Tanpa Perlu Isi Bensin, Kenali Teknologi Honda CUV e:

Honda ST125 Dax Tampil Makin Ikonik dengan Warna Baru

New Honda BeAT, Always BeAT for You

Berita Media Online

Copyright @ 2020 Ampar.id - PT MEDIA AMPAR KJA Supported by Ara.

INFORMASI

  • Ampar
  • Disclaimer
  • Karir
  • Kode Etik
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Redaksi
  • Tentang Kami

MEDIA SOSIAL

Tidak ada hasil
Lihat Semua Hasil
  • Ampar
  • Disclaimer
  • Karir
  • Kode Etik
  • Kode Perilaku Perusahaan Pers
  • Pedoman Media Siber
  • Perlindungan Wartawan
  • Redaksi
  • Tentang Kami

Copyright @ 2020 Ampar.id - PT MEDIA AMPAR KJA Supported by Ara.