Oleh: Amri Ikhsan
AMPAR.ID, JAMBI – Dalam kehidupan sehari hari, sangat jarang kita menerima orang yang melawan kita, memaafkan orang yang justru telah menganiaya kita, atau bersedekah kepada orang yang telah berbuat jahat kepada kita dan kita menyambungkan silaturrahmi kepada orang yang sudah memutuskannya.
Banyak orang hanya ingin menjadi manusia biasa; membenci orang yang menentang dia; bermuka masam kepada orang yang memarahi kita, cuek pada orang yang tidak peduli dengan kita atau pelit harta pada orang telah berbuat jahat pada dia; serta dia jauhi orang yang telah memutuskan silaturahim dengan dia.
Di zaman digital, kalau ada orang yang memposting kesalahan kita, kita cari lagi kesalahan dia dan lalu kita posting lagi, kalau ada orang yang tweet pernyataan kita yang ‘salah’, cari lagi pernyataan dia yang salah, lalu di retweet. Kalau ada yang unfollow, kita unfollow back. Kalau ada yang dislike, kita ikuti dengan klik dislike pula. Begitu seterusnya, tanpa henti.
Dan yang lebih ‘parah’ adalah apabila ada orang benci, kita lebih benci lagi, ada orang marah, kita lebih marah lagi, ada orang cuek, kita lebih cuek lagi, ada orang berkata kasar, kita lebih kasar lagi, ada orang tidak sopan, kita lebih tidak sopan lagi, atau ada orang tidak peduli, kita jauh lebih tidak peduli.
Justru ditengah ketidaknyamanan yang dirasakan itulah, kita melakukan yang baik sebagai lawan yang tidak baik, Allah akan mengangkat derajat manusia. Karena berbuat kebaikan sebagai lawan dari kejahatan, inshaallah, kesehatan jiwa kita akan tenang. Ketenangan, kebahagiaan adalah akibat dari tindakan dan ucapan diri kita sendiri bukan sebagai pemberian dari orang lain, kita sendiri yang menciptakan, membangun dan kita pelihara.
Jika kita mengalami cacian dan hinaan yang menyakitkan, maka kita balas cacian dan hinaan itu dengan kalimat pujian dan penghargaan, jika orang benci kita, balas dengan berbuat baik, jika ada orang menjelek jelekkan kita apalagi dibelakang kita, jangan marah, jangan benci dengan orang tersebut.
Inshaallah, bila kita melawan kejahatan dengan kebaikan, maka secara psikologis kita akan mengalami keseimbangan. Memang, tindakan itu sulit dilakukan, akan tetapi jika kita berhasil melakukannya maka secara psikologis kita akan jauh lebih sehat dan lebih berfikir positif. (UNPAD)
Oleh karena itu, pasca Ramadan dan Idul Fitri, lanjutkan membiasakan mengucapkan kata-kata santun kepada orang yang menentang pendapat kita; menunjukkan kebaikan hati kepada orang yang menganiaya dan menyakiti diri kita; bersedekah harta kepada orang yang membenci kita; dan meningkatkan keakraban kepada orang yang memutuskan silaturahim.
Berprasangka baik kepada orang yang mengkritik kita, berkata santun pada orang yang menfitnah kita, membantu orang yang cuek dengan kita, tersenyum pada orang yang memarahi kita, mendoakan untuk orang yang berprasangka buruk dengan kita. Intinya adalah balas kejahatan dengan kebaikan.
Ubadah bin Al Shamit menceritakan: Pada suatu hari Rasulullah Muhammad SAW menceritakan: “Maukah aku tunjukkan hal-hal yang menyebabkan Allah mengangkat derajatnya”. Ketika sahabat-sahabatnya berkata “Na’am ya Rasulullah”, kemudian Rasul berkata: “Engkau maklumi orang yang menentangmu karena ketidaktahuannya, engkau maafkan orang yang menganiayamu, engkau berikan rezekimu kepada orang yang mengharamkan hartanya untukmu dan engkau sambungkan persaudaraan dengan orang yang memutuskannya (Al-Tagrib wa Al Tarhib 3:342).
Harus diakui bahwa tidak selalu kebaikan akan berbuah manis. Sering, ketika ada orang yang berbuat tidak baik, kita biasanya merasa marah dan tidak nyaman. Tapi jangan jadikan ketidaknyamananitu sebagai perusak hati, atau pengganggu kegembiraan. Berprasangka baik dulu, mungkin dia sedang lupa, sedang khilaf, doakan semua dia bisa menyadari kesalahannya, dan memperbaikan kekhilafannya.
Maka tugas kita sebagai makhluk sosial, bila silaturahim terputus, maka sambunglah; jika menzalimimu, maafkanlah; jika membincangkan keburukanmu, baik di depanmu atau di belakangmu, maafkan dan balas dengan perkataan yang santun. Jika ada yang tidak menegur atau menyapamu dan mengacuhkan mu, tidak mau berbicara denganmu, maka berilah salam terlebih dulu dan ucapkan kata kata yang baik dan santun.
Pada saat pandemi, dimana psikososial kita terganggu dan imun menurun, usahakan mulut yang senantiasa mengucapkan kata-kata indah, penuh penghargaan bukan kata-kata kotor dan kritik tanpa solusi, kata-kata yang menyejukkan hati, diksi yang menggembirakan bukan yang menyakiti, kata-kata yang menenangkan bukan yang menggelisahkan, kata-kata yang memaafkan bukan yang mendendam, kata-kata yang memuliakan bukan yang menghinakan.
Jika kita pemimpin, orang yang sedang berkuasa, jujurlah, berlaku adillah, jangan beda bedakan, kalau ada yang mengkritikmu, dengarkanlah, hormatilah, berarti dia peduli. Jika kita rakyat biasa, hormatilah pemimpin kita, beri masukan yang konstruktif. Jika kita guru, mendidiklah dengan sempurna, jangan terlantar anak didikmu, jangan biarkah anak didikmu tidak belajar.
Secara umum, memaafkan merupakan salah satu cara seseorang dalam melepaskan dendam atau rasa kesal, marah, dan kecewa pada orang lain. Terlebih di masa pandemi Covid-19 seperti ini, memaafkan satu sama lain akan memberikan dampak kesehatan pada tubuh untuk tidak mempengaruhi imunitas tubuh kita terhadap serangan virus(aswata).
Salah satu hal yang menyebabkan diri sendiri sulit meminta maaf dan memaafkan orang lain adalah energi negatif yang ada di dalam tubuh. Energi itu mampu dengan mudahnya menguasai diri dan menilai bahwa meminta maaf adalah bentuk kekalahan. Padahal, meminta maaf dan memaafkan orang lain merupakan tanda dari bentuk pendewasaan diri. (Kumparan.com)
Sikap memaafkan bukan hanya dapat membawa rasa tenang dan damai, tetapi juga baik untuk kesehatan fisik dan mental seseorang. Secara psikologis, orang yang pemaaf memiliki frekuensi dan tingkat depresi yang rendah. (detik)
“Dan barangsiapa meringankan penderitaan orang lain, maka Allah akan meringankan penderitaannya di dunia dan akhirat. Dan barang siapa menutupi (cacat) seorang Muslim, maka Allah akan menutupi (cacatnya) di dunia dan akhirat.” (HR Bukhari-Muslim).
Hari Raya Idul Fitri menjadi momentum yang tepat untuk saling memaafkan. Memaafkan bukan berarti kita memaklumi atau membenarkan kesalahan, tapi diniatkan untuk menjalan silaturrahmi dan akan membuat kita kuat. Meski tak mudah.
(Penulis adalah Pendidik di Madrasah)
















