Kita sedang menyaksikan fenomena sosial-keagamaan yang menarik di Jambi. Hj. Ernawati, Ketua DPW Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) Jambi, bersama ISMI bergerak dari masjid ke pesantren, dari rumah tahfiz ke panti asuhan. Ia menyalurkan bantuan untuk 230 anak yatim dan dhuafa di 8 panti asuhan, membidik 500 anak yatim ekstrem yang pendidikan dan kesehatannya akan ditanggung, serta memberangkatkan 100 guru ngaji, marbot masjid dan penggerak dakwah untuk umrah gratis setiap tahun.
Namun ketika kebaikan itu nyata dan dapat dilihat, responsnya justru dilecehkan. Masa lalunya terus dihakimi, dan kebaikannya hari ini dicurigai. Fenomena inilah yang harus kita bedah dengan nilai-nilai Islam.
Dalam Islam, ada dua prinsip besar dalam menilai manusia.
Pertama, Islam Mengajarkan: Masa Lalu Yang Kelam Bisa Diganti Menjadi Pahala.
Allah SWT berfirman dengan janji yang luar biasa:
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan: 70)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan, Allah tidak hanya mengampuni, tapi menukar kejahatan masa lalu menjadi pahala kebaikan, jika seseorang bertaubat dan beramal sholeh hari ini. Artinya, ketika seseorang yang punya masa lalu kelam hari ini menyantuni 500 yatim ekstrem, Allah sedang menukar masa lalunya itu dengan pahala. Siapa kita yang berhak melecehkan pertukaran mulia yang dilakukan Allah?
Rasulullah SAW menegaskan prinsip pemutus:
“Islam itu menghapus dosa-dosa sebelumnya. Dan taubat itu menghapus dosa-dosa sebelumnya.” (HR. Muslim & Ahmad)
Dan sabda beliau: “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.” (HR. Ibnu Majah)
Ini adalah konsep Al-Islamu Yahdimu Ma Qablahu. Taubat meruntuhkan masa lalu. Selesai. Dalam kacamata Islam, lembaran baru seseorang harus dinilai dari apa yang ia tanam hari ini, bukan dari apa yang ia lakukan di masa lalu. Jika Allah saja membuka pintu ampunan seluas itu, mengapa kita yang menutupnya rapat-rapat?
Kedua, Teladan Zaman Rasulullah: Dari Pendosa Menjadi Pembela Umat.
Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam merangkul orang yang ingin berubah.
Lihatlah Umar bin Khattab RA. Masa lalunya keras, peminum khamar, bahkan pernah berniat membunuh Rasulullah. Namun ketika ia hijrah, Rasulullah tidak pernah mengungkit masa lalunya. Umar justru diangkat menjadi Khalifah yang paling adil dan menjadi kunci pembebasan Baitul Maqdis.
Lihatlah Khalid bin Walid RA. Ia adalah panglima musuh yang menyebabkan kekalahan Muslimin di Perang Uhud. Puluhan sahabat syahid karena strateginya. Ketika ia masuk Islam, Rasulullah tidak menghakiminya, justru memberinya gelar Saifullah – Pedang Allah. Dari tangannya, Islam tersebar ke Syam dan Persia.
Lihatlah Wahsyi dan Hindun. Wahsyi adalah yang membunuh Hamzah, paman Rasulullah yang sangat dicintai, dengan cara yang sangat keji. Hindun adalah otak di baliknya. Namun ketika keduanya bertaubat setelah Fathu Makkah, Rasulullah memaafkan. Bahkan Wahsyi kemudian menjadi pahlawan yang membunuh Musailamah Al-Kadzab, nabi palsu yang membahayakan Islam.
Apa pelajaran dari tiga kisah ini? Rasulullah tidak pernah mengunci manusia pada masa lalunya. Rasulullah menilai manusia dari apa yang bisa ia berikan untuk umat hari ini.
Ketiga, Islam Melarang Melecehkan Kebaikan Yang Nyata Manfaatnya.
Allah berfirman: “Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Maidah: 8)
Ketika rasa tidak suka pada masa lalu seseorang mendorong kita melecehkan kebaikannya – bantuan yatim disebut pencitraan, umrah gratis disebut politik – maka kita telah berlaku tidak adil. Dan ketidakadilan menjauhkan kita dari takwa.
Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, meskipun hanya dengan wajah berseri ketika bertemu saudaramu.” (HR. Muslim)
Jika senyum saja tidak boleh diremehkan, apalagi memberi makan 230 anak yatim, menanggung 500 yatim ekstrem, dan memberangkatkan 100 guru ngaji umrah? Melecehkan kebaikan yang manfaatnya nyata bagi umat adalah cerminan hati yang sakit, bukan cerminan iman.
Mari kita belajar dari Rasulullah. Biarkan masa lalu menjadi urusan seseorang dengan Tuhannya. Tugas kita adalah melihat dan mendukung kebaikan hari ini. Jika kebaikan itu tulus, pahalanya untuk pelakunya dan manfaatnya untuk umat. Jika ada niat lain di baliknya, biarlah Allah yang menjadi hakimnya, bukan kita yang paling keras menghakimi.
Jangan sampai kita menjadi kaum yang menghalangi orang berbuat baik, lalu di akhirat kita ditanya: “Mengapa engkau halangi hamba-Ku yang ingin kembali kepada-Ku?”.
Wallahu A’lam ..











