Oleh: Lina Marliana, Staf BPS Kabupaten Tebo
AMPAR.ID – PANDEMI yang melanda saat ini membuat perekonomian begitu sulit, para pengusaha di awal pandemi begitu bingung apa yang harus dilakukan mengingat covid 19 belum di temukan obat nya.
Vaksin yang terus digalakan pemerintah diharapkan mampu mengurangi resiko berat akibat terkena covid 19. Jumlah orang yang sudah divaksin saat ini sudah mencapai sekitar 180 jutaan. Sehingga di harapkan para pengusaha mulai beradaptasi dengan kondisi pandemi yang belum tentu berakhir. Dengan pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik diharapkan membuat investor mulai menginvestasikan uangnya ke sektor ril.
Di Provinsi Jambi Penanaman modal dalam negeri pada tahun 2020 sebesar 3511,7 Milyar Rupiah sedangkan untuk untuk penanaman modal Asing Provinsi Jambi sebesar 27 juta dollar Amerika pada tahun yang sama, data tersebut berdasarkan dari BPS. Diharapkan invesatasi yang ada di Provinsi Jambi mampu dirasakan oleh masyarakat Jambi.
Perdagangan dan jasa masih menjadi yang menarik bagi investor di provinsi jambi. Sektor pariwisata juga semakin tumbuh di provinsi jambi mengingat banyak potensi wisata yang ada diprovinsi jambi saat ini. tentunya sektor pariwisata ini sebenarnya diharapkan terus berkembang mengingat sektor ini mampu menumbuhkan UMKM.
UMKM merupakan sektor yang sangat terdampak oleh Pandemi Covid 19 ini, sehingga butuh perhatian lebih oleh pemerintah. UMKM biasanya lebih rapuh secara financial dan memiliki kas lebih sedikit dibandingkan pengusaha besar. Sehingga ketika pandemi melanda banyak UMKM terjebak dalam kesulitan dalam pembayaran hutang Bank.
Peran pemerintah diharapkan mampu menjembatani dalam membangun sistem kolaborasi yang menguntungkan antara UMKM dan para Pengusaha besar. Misalnya produk-produk UMKM harus bisa masuk di setiap minimarket bahkan bila perlu ekspor produk UMKM. Tentu para pelaku UMKM juga harus mulai menaikan kualitas dan membuat kemasan produknya lebih baik.
UMKM sendiri sangat besar memberi kontribusi dalam kue ekonomi dalam negeri. Persoalan yang dihadapi UMKM dalam mengembangkan usaha nya biasanya keuangan, akses permodalan misalnya.
Survei yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2016 menunjukan mayoritas UMKM khususnya usaha mikro dan kecil mengandalkan modal dari kantong sendiri ataupun sumber informal seperti misalnya rentenir. Harus di akui juga UMKM tertinggal dalam Hal mengadopsi alat dan teknologi digital yang sebenernya membantu ketahanan dalam periode yang sulit seperti pandemi saat ini.
Pemerintah sendiri sebenernya punya flagship program dalam bentuk kredit usaha rakyat yang memberikan akses modal ke para pelaku UMKM yang dikatagorikan feasible. Bantuan yang di berikan pemerintah selama pandemi juga sangat membantu para pelaku usaha mikro dan kecil terus bertahan dalam berusaha. Selain persoalan keuangan atau permodalan, UMKM juga membutuhkan dukungan pendampingan baik itu dalam bentuk mencari informasi akses pasar, ketentuan regulasi hingga penyesuaian teknologi.
Kementerian Koperasi dan UKM memiliki SMESCO Indonesia dimana tugasnya membantu akses pemasaran bagi usaha kecil dan menengah. Diharapkan SMESCO mampu meningkatkan peranya sebagai unit layanan yang bertujuan memberikan informasi dan layanan akses pasar kepada UMKM dalam skala yang lebih luas.
Pemerintah daerah diharapkan mampu mengkelompokan para pelaku UMKM agar lebih mudah mengumpulkan data dalam meberikan bantuan atau informasi terhadap kebutuhan pasar.
Jika kita melihat Korea Selatan, dalam mendorong perkembangan UMKM, Korsel membentuk dan melibatkan beragam Lembaga seperti misalnya Technology and Information Promotion Agency for SMEs yang tujuanya mendukung riset dan pengembangan UMKM hingga Small Business Distribution Center untuk membantu pemasaran UMKM.
Kementerian koperasi dan UMKM harus menggandeng para Influencer untuk mempromosikan produk UMKM disetiap daerah. Serta harus berani membuat wadah bagi para pelaku UMKM yang ingin mengajak Kolaborasi antara pelaku UMKM dengan Investor. Contoh sukses produk UMKM yang sukses berkolaborasi dengan investor ada kopi Kenangan, Sang Pisang, Haus, Lemonilo, Teh botol sosro dan masih banyak lainya.
Tentu ini butuh peran bantuan Pemerintah daerah agar produk UMKM Meraka mampu dilirik oleh investor dan mampu berkembang menjadi lebih besar.
Semoga Investasi selalu berdampingan dengan para pelaku UMKM bukan palah mematikan UMKM.
(*/jp)















