AMPAR.ID, KOTA JAMBI – Mahalnya harga kacang kedelai saat ini membuat bimbang para perajin tempe di Jambi, khususnya di Kota Jambi.
Menyikapi itu, Menteri Perdagangan RI Muhammad Lutfily, angkat bicara saat dirinya berkunjung ke pasar Angso Duo Jambi, Jumat (25/2)
“Seperti kita ketahui, tahun lalu kita mengimpor lebih dari 2,5 juta atau lebih dari 90% dari pada kedelai kita. Karena hasil pada tahun lalu itu tidak lebih dari 10% atau 250 ribu ton,” jelasnya, kepada awak media.
Kata Lutfi, hal itu bisa terjadi karena adanya keributan atau terjadi invasi militer di semenanjung krimia.
“Ini Ukraina dan Rusia itu adalah penyumbang 25% dari pada kebutuhan untuk terigu dunia,”tuturnya.
Karena adanya kenaikan terigu, kata Lutfi, akan diikuti oleh harga- harga barang, termasuk kedelai dan juga termasuk CPO akan naik tinggi.
“Kalau kita lihat, kemarin penutupan harga CPO sudah naik 6% di Kuala lumpur,”ujarnya.
Ia menyampaikan, artinya hal itu akan mengalami kenaikan terus. Sekarang ini pihaknya sedang memintigasi harga, hari ini di Indonesia kedelainya itu masih lebih rendah dibandingkan dengan Juni 2021 di Indonesia.
“Kita memberikan harga acuan tahu dan tempe. Jadi harga acuan tahu dan tempe ini untuk memediasi antara pengrajin dan penjual di pasar- pasar. Ini sedang dikerjakan. Tetapi kalau sampai lebih tinggi lagi, kita akan mencoba memintigasi dengan cara lain,”jelasnya.
Pihaknya sedang putuskan hal itu, dalam kurun waktu satu hingga dua minggu kedepan mudahan- mudahan bisa membantu pengrajin dan juga membantu rakyat yang sangat membutuhkan.
(San/jp)













