JAKARTA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menyatakan bahwa stabilitas sistem keuangan Indonesia pada triwulan I-2026 berada dalam kondisi terjaga. Ketahanan ini berhasil dipertahankan meskipun pasar keuangan global sedang dihantam volatilitas tinggi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kesimpulan tersebut merupakan hasil rapat berkala KSSK yang dihadiri oleh Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia (BI), Ketua Dewan Komisioner OJK, dan Ketua Dewan Komisioner LPS pada akhir April lalu.
Di saat International Monetary Fund (IMF) memprediksi perlambatan ekonomi dunia ke angka 3,1% akibat gangguan pasokan energi, ekonomi Indonesia justru mencatatkan pertumbuhan impresif. Pada triwulan I-2026, ekonomi nasional tumbuh 5,61% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,39%.
“Akselerasi belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan. Program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Desa Nelayan, dan Sekolah Rakyat telah memberikan dampak nyata,” tulis laporan KSSK dalam siaran persnya, Kamis (7/5/2026).
Selain itu, sektor investasi turut tumbuh tinggi seiring mulai berjalannya proyek hilirisasi di bawah naungan Danantara serta pembangunan infrastruktur strategis lainnya.
KSSK mengakui adanya tekanan pada nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level Rp16.995 per dolar AS pada akhir Maret akibat sentimen risk-off investor global. Namun, melalui intervensi aktif Bank Indonesia, nilai tukar berhasil distabilkan kembali ke level Rp17.415 pada awal Mei 2026.
Dari sisi harga, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) per April 2026 tercatat menurun ke angka 2,42% (yoy). Penurunan ini didukung oleh panen raya yang menjaga pasokan pangan serta kebijakan subsidi energi pemerintah yang efektif meredam dampak kenaikan harga minyak dunia.
Sektor jasa keuangan menunjukkan performa yang solid dengan indikator sebagai berikut:
Perbankan: Permodalan (CAR) tetap tinggi di level 25,09% dengan pertumbuhan kredit sebesar 9,49%. Likuiditas pun terjaga jauh di atas ambang batas.
Pasar Modal: Hingga 5 Mei 2026, penghimpunan dana korporasi mencapai Rp59,35 triliun dengan pertumbuhan jumlah investor yang naik signifikan menjadi 24,74 juta SID.
Aset Kripto: OJK mencatat transaksi aset kripto selama Maret 2026 mencapai Rp22,24 triliun dengan jumlah konsumen yang terus meningkat.
Menghadapi sisa tahun 2026, pemerintah telah membentuk Satgas P3M-PPE untuk mempercepat program strategis dan investasi. Satgas ini bahkan menghadirkan layanan Kanal Debottlenecking 24 jam untuk menyelesaikan hambatan perizinan secara cepat dan transparan.
Sementara itu, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memastikan cakupan penjaminan rekening nasabah tetap aman di atas 90% dan tengah mengakselerasi persiapan Program Penjaminan Polis untuk sektor asuransi.
KSSK berkomitmen untuk terus memperkuat sinergi koordinasi antarotoritas guna memitigasi risiko ketidakpastian global serta memastikan APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat Indonesia. (red)
















