AMPAR.ID – Mahalnya harga kacang kedelai saat ini membuat bimbang para perajin tempe di Jambi, khususnya di Kota Jambi sendiri.
Kacang kedelai itu merupakan jenis kacang-kacangan yang dapat diolah menjadi berbagai macam jenis olahan makanan, khususnya tempe dan tahu. Tempe dan tahu itu merupakan makanan sehari- hari, dan dapat dijumpai dimana saja.
Seperti halnya yang dialami Sorban (43) perajin tempe di Kelurahan Thehok, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, menyampaikan tampaknya belum ada perajin tempe di Kota Jambi yang berencana mengadakan aksi mogok produksi, seperti di daerah-daerah lain.
BACA JUGA: Pemandu Karoke di Jambi Positif Konsumsi Narkoba
Kata Sorban, mogok produksi tidak bisa menjadi solusi untuk mengatasi harga kacang kedelai yang meroket. Aksi tersebut akan menyusahkan perajin tempe, serta para karyawannya.
“Mogok itu bukan solusi. Imbasnya juga pekerja. Yang terpenting adalah tetap produksi dan bertahan. Jika tidak produksi, yang rugi kita juga,”ujarnya, Rabu (23/2).
Ia berharap, pemerintah bersedia bermediasi bersama para perajin tempe dan tahu.
“Kalau kita mediasi, dan pemerintah cepat menanggapi, itu lebih baik. Tapi, kalau pemerintah tidak cepat, itu menjadi jalan terakhir,”ungkapnya.
BACA JUGA: Laka Motor Yamaha Vixion Versus Honda Spacy, Satu Orang Meninggal Dunia
Ia khawatir kenaikan harga kacang kedelai dimanfaatkan perusahaan pemasok kacang kedelai yang dikirim dari luar negeri.
Tidak menutup kemungkinan kacang kedelai yang sudah ada sebelumnya dan tersimpan di gudang, dijual dengan harga yang sudah naik mengikuti tren di luar negeri.
Dari sana, ia berharap pemerintah dapat menekan perusahaan-perusahaan tersebut agar tidak bebas memainkan harga. Misalnya, Bulog dapat mendistribusikan kacang kedelai dengan harga murah. Sehingga perusahaan pemasok kacang kedelai terpaksa mengimbangi Bulog.
BACA JUGA: Pria Tewas Dibawah JPO Mal WTC
“Tak mungkin perusahaan besar hanya menyuplai ratusan ton saja. Jadi, harapan saya Bulog juga berperan. Bekerja sama dengan berbagai negara untuk menyuplai kedelai. Jika pemerintah berperan, kenaikan ini tidak begitu berpengaruh,” katanya.
Sorban tetap menjual tempe dengan harga yang sama, walaupun harga kacang kedelai naik sampai Rp 11.250 Kg. Per balok tempe dijual dengan harga Rp. 4 ribu kepada para pedagang.
“Harga modal bagi pedagang Rp. 4 ribu, masih kita tahan. Plastiknya tidak terlalu besar, beratnya 3,5 ons,”jelasnya.
BACA JUGA: BNNP Jambi Berhasil Ringkus Pengedar Sabu di Nipah Panjang
Dalam sehari, ia bersama 6 pekerjanya mengolah sekitar 200 kg kacang kedelai menjadi tempe. Tempe yang sudah jadi, dititipkan pada sekian 120 pedagang.
“Kita sudah punya langganan. Jadi produksi tetap dijaga. Ya, ini pertarungan kami. Jadi tinggal manajemen kita lagi,”tuturnya.
Ia tetap menjaga kualitas tempenya. Sama seperti saat harga kedelai masih tergolong murah dibandingkan dengan sekarang.
“Masing-masing punya harga yang berbeda. Di sini 98% murni tempe,”ujarnya.
BACA JUGA: Mayat Pria dalam Karung, Palukunya Ditangkap Polisi, Lihat Tampangnya
Namun, kata Sorban, perajin yang mengolah kedelai seperti 100 kg per hari akan sulit bertahan. Karena itu, ia berharap harga tempe turun, setidaknya menjadi Rp. 9 ribu.
“Kalau dengan harga Rp. 9 ribu kita masih bisa bertahan lebih lama. Tapi, kalau turun harga Rp. 7 ribu sepertinya tidak mungkin. Kacang ini kalau sudah naik bertahan selama setahun,”tandasnya. (San)















