AMPAR.ID, JAKARTA – Peta persaingan konglomerat papan atas tanah air kembali mengalami pergeseran dinamis. Pendiri perusahaan komoditas batu bara PT Bayan Resources Tbk, Low Tuck Kwong, resmi dinobatkan sebagai orang terkaya nomor satu di Indonesia per pertengahan tahun 2026.
Berdasarkan data terbaru Forbes Real-Time Billionaires, taipan kelahiran Singapura tersebut memimpin puncak daftar dengan total kekayaan bersih mencapai 16,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp293,7 triliun (asumsi kurs Rp17.911 per dolar AS).
Keberhasilan Low Tuck Kwong mengamankan posisi puncak didorong oleh kokohnya kinerja saham sektor energi, khususnya batubara di pasar Asia. Catatan ini sekaligus menggeser posisi sang raja petrokimia, Prajogo Pangestu, yang sempat mendominasi posisi nomor satu pada awal tahun.
Sementara itu, posisi kedua ditempati oleh bos perbankan dan tembakau, Robert Budi Hartono. Pemilik saham mayoritas PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan Group Djarum tersebut mencatatkan kekayaan bersih sebesar 14,8 miliar dolar AS atau berkisar Rp265,5 triliun.
Prajogo Pangestu, pendiri Barito Group yang sebelumnya kokoh di peringkat pertama, kini harus puas berada di urutan ketiga. Kekayaan pengusaha di sektor petrokimia dan energi terbarukan itu tercatat berada di angka 13,9 miliar dolar AS atau setara Rp249 triliun akibat fluktuasi pergerakan pasar saham dan industri yang bergerak dinamis.
Berikut adalah daftar lima besar orang terkaya di Indonesia berdasarkan rilis pembaruan data Forbes:
| Peringkat | Nama Konglomerat | Sektor Bisnis | Estimasi Kekayaan (USD / Rupiah) |
| 1 | Low Tuck Kwong | Batu Bara (Bayan Resources) | 16,4 Miliar / Rp293,7 Triliun |
| 2 | Robert Budi Hartono | Perbankan & Tembakau (BCA & Djarum) | 14,8 Miliar / Rp265,5 Triliun |
| 3 | Prajogo Pangestu | Petrokimia & Energi (Barito Group) | 13,9 Miliar / Rp249 Triliun |
| 4 | Anthoni Salim | Konsumer & Terdiversifikasi (Salim Group) | 10,3 Miliar / Rp184,7 Triliun |
| 5 | Sri Prakash Lohia | Tekstil & Petrokimia (Indorama) | 8,5 Miliar / Rp152,4 Triliun |
Forbes menjelaskan bahwa fluktuasi nilai kekayaan para miliarder ini akan terus diperbarui secara berkelanjutan mengikuti pergerakan modal, nilai valuasi perusahaan, serta kondisi penutupan pasar saham secara real-time.
















