AMPAR.ID, JAMBI – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi resmi merilis laporan terbaru mengenai indikator ekonomi makro daerah pada Senin (2/3/2026). Laporan tersebut menyoroti empat poin utama, mulai dari lonjakan inflasi tahunan, peningkatan kesejahteraan petani, dinamika ekspor-impor, hingga penurunan performa pariwisata di awal tahun.
1. Inflasi Jambi Dipicu Sektor Perumahan dan Jasa
Provinsi Jambi mencatatkan inflasi year-on-year (y-on-y) sebesar 4,59 persen pada Februari 2026. Secara kewilayahan, Muaro Bungo menjadi daerah dengan inflasi tertinggi mencapai 6,46 persen, sementara Kota Jambi tercatat paling rendah sebesar 4,37 persen.
Pemicu utama inflasi ini adalah kenaikan drastis pada kelompok pengeluaran Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang melonjak hingga 17,91 persen. Disusul oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 12,38 persen. Namun, kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan justru mengalami penurunan harga tipis sebesar 0,10 persen.
2. Angin Segar bagi Petani Jambi
Di tengah kenaikan harga barang pokok, kabar baik datang dari sektor pertanian. Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Jambi pada Februari 2026 naik 1,77 persen menjadi 176,42.
Kenaikan ini mengindikasikan bahwa daya beli petani di perdesaan semakin kuat. Hal ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani (hasil panen) naik lebih tinggi (2,15 persen) dibandingkan kenaikan biaya yang harus mereka bayar untuk konsumsi dan produksi (0,38 persen). Sejalan dengan itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga ikut terkerek naik sebesar 1,89 persen.
3. Ekspor Melandai, Impor Mesin Melonjak Tajam
Kinerja perdagangan luar negeri Jambi menunjukkan tren yang kontras. Nilai ekspor pada Januari 2026 tercatat sebesar US$152,92 juta, atau turun tipis 0,51 persen dibandingkan Desember 2025. Sektor industri masih mendominasi kontribusi ekspor sebesar 57,51 persen, dengan Singapura dan Jepang sebagai tujuan utama.
Di sisi lain, nilai impor Jambi justru meroket hingga 92,58 persen, dari US$5,80 juta menjadi **US$11,16 juta**. Lonjakan ini didominasi oleh masuknya komoditi mesin dan alat angkutan yang mencapai 69,87 persen dari total impor, mayoritas berasal dari Tiongkok dan Malaysia.
4. Pariwisata Lesu di Awal Tahun
Sektor pariwisata mengalami kelesuan pasca-libur akhir tahun. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang pada Januari 2026 merosot ke angka 47,38 persen, berbanding 54,08 persen pada bulan sebelumnya.
Jumlah tamu yang menginap turun signifikan sebesar 22,46 persen, dengan total 52.132 orang. Meski demikian, rata-rata lama menginap tamu hotel bintang masih bertahan di angka 1,80 hari, dengan rasio tamu mancanegara sebesar 9 orang dari setiap 1.000 tamu yang datang. (red)
















