AMPAR.ID, JAKARTA — Pemerintah merilis rekapitulasi data terbaru pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis per Juli 2026. Program nasional ini tercatat telah menjangkau sebanyak 4.981.330 siswa (penerima manfaat) yang tersebar di 23.879 satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Berdasarkan data yang dihimpun pada Senin (6/7/2026), dari total puluhan ribu sekolah yang menjadi sasaran program, sebanyak 13.364 merupakan sekolah negeri dan 10.515 sisanya adalah sekolah swasta. Selain itu, pemerintah juga memberikan perhatian khusus dengan mencatat 123.802 penerima manfaat yang berada dalam kondisi khusus.
Dilihat dari tingkat pendidikannya, Sekolah Dasar (SD) menjadi klaster terbesar yang menerima alokasi program ini, disusul oleh jenjang PAUD dan SMP. Berikut adalah rincian sebaran satuan pendidikan dan jumlah penerima manfaat:
| Jenjang Pendidikan | Jumlah Sekolah (Negeri/Swasta) | Total Penerima Manfaat |
| SD | 10.755 sekolah (9.956 Negeri / 799 Swasta) | 2.308.998 siswa |
| SMP | 2.686 sekolah (1.933 Negeri / 753 Swasta) | 1.314.698 siswa |
| PAUD | 8.612 sekolah (445 Negeri / 8.167 Swasta) | 417.152 siswa |
| SMA | 901 sekolah (661 Negeri / 240 Swasta) | 469.798 siswa |
| SMK | 765 sekolah (297 Negeri / 468 Swasta) | 443.470 siswa |
| SLB | 131 sekolah (59 Negeri / 72 Swasta) | 15.124 siswa |
| SKB | 13 sekolah (13 Negeri / 0 Swasta) | 8.920 siswa |
| PKBM | 16 sekolah (0 Negeri / 16 Swasta) | 3.170 siswa |
Dari total hampir 5 juta penerima manfaat, komposisi peserta didik berdasarkan jenis kelamin menunjukkan angka yang cukup berimbang, yakni terdiri dari 2.545.843 siswa laki-laki dan 2.435.487 siswa perempuan.
Sebagai bagian dari upaya menjaga mutu dan keamanan pangan, manajemen program juga melakukan pemetaan ketat terhadap karakteristik kesehatan dan kerentanan pangan para siswa. Tercatat ribuan anak memiliki riwayat medis khusus terkait konsumsi makanan.
Secara akumulatif, terdapat 78.230 siswa yang memiliki alergi makanan, 30.464 siswa teridentifikasi intoleran terhadap bahan makanan tertentu, serta 15.108 siswa yang tercatat memiliki fobia makanan.
Jenjang SD dan SMP menjadi tingkat pendidikan dengan pelaporan kasus alergi tertinggi, masing-masing menyumbang angka 28.291 kasus di tingkat SD dan 25.824 kasus di tingkat SMP. Data medis ini digunakan oleh satuan penyedia makanan di lapangan guna menyesuaikan menu hidangan harian agar tetap aman dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi masing-masing siswa.
















