AMPAR.ID, Jambi- Terkait penangkapan Tengku Ardiyansah yang dilakukan oleh tim penyidik pidsus Kejari Tanjung Jabung Timur (Tanjab Timur), Rabu (2/2/) malam lalu, membuat anak-anak dari Tengku ini mengalami trauma.
Pasalnya, Tim Kejari Tanjung Jabung Timur melakukan penangkapan terhadap Tengku Ardiansyah ini disalah satu Caffe di Kota jambi.
Isteri Tengku Ardiansyah, Eni Rusli mengatakan bahwa anaknya mengetahui hal itu pada saat melihat-lihat di Youtube dan mengetahuilah ayahnya ditangkap. Saat ini anaknya berada dirumah neneknya dan anaknya pun tidak mau pulang kerumah jika tidak bersama ayahnya.
“Mobil- mobil yang di cafe, mereka datang satu mobil ke rumah, itu ngantar surat penangkapan suami saya, kalau keluarga sudah mengetahui suami saya ditangkap,”ujar isteri Tengku Ardiansyah, Eni Rusli, Jumaat (4/2).
Ia menyampaikan, saat itu kondisi anak Tengku dan Eni langsung menjerit-jerit karena mendengar kabar itu. Secara pisikolog, anaknya mengalami trauma mendengar sang ayah ditangkap oleh Kejaksaan Negeri Tanjung Jabung Timur.
“Saat itu Kejari ke Caffe dahulu baru ngantar surat bahwa suami saya ditahan,”jelasnya.
Kata Eni, saat Kejari datang ke rumahnya, Eni hanya berbicara dibalik pintu pagar besi (Tralis, Red) namun, pihak dari Kejari itu juga memberitahu kepada Eni kalau berbicara di depan ibu malu sama tetangga.
“Saya bilang ok lah. Tapi jangan masuk ke rumah, di depan saja (Teras, Red). Saya bilang begitu. Akhirnya masuk lah ke dalam rumah, pada saat itu dia kasih surat-surat, kalau saya tidak menandatangani surat itu apa resikonya buat saya. Dan dia bilang, ibu harus membuat surat pernyataan kalau ibu tidak mau terima surat. Terus saya bilang mana surat itu, langsung saya tandatangani. Kalau kejadiannya itu sekitar pukul 08.00 WIB dan mereka datang lebih dari 08.30 WIB.
Ia menyampaikan, pada saat ngantar surat, mereka memvideokan Eni (Isteri, Red) bahwa sudah menerima surat. Itu seperti agenda catatan dan ia disuruh menandatangani 4 tandatangan.
“Saat itu suami saya diajak di asosiasi Rifki. Dan, suami saya disana bukan sebagai ketua. Kok bisa dia yang save segala macem dianggap sekenario, kan tidak mungkin, pasti ada ketua kan. Disitu saya sangat terpukul,”ungkapnya.
Setelah tidak terpakai lagi, kata Eni, pindah ke asosiasi Hasibuan. Pada saat disitu, ia tidak percaya jika suaminya yang save segalanya, karena yang sebagai ketua itu Hasibuan dan dari situlah ia sangat tidak terima.
“Mereka sama sekali tidak menghubungi, malah mereka kabur melarikan diri. Ini tim yang pertama. Kalau tim yang kedua tidak ada masalah. Saya juga meminta tolong kepada Kejati Jambi tolong di tanggapi juga yang tim pertama, karena mereka itu satu tim, kok bisa suami saya yang jadi tersangka, padahal suami saya bukan ketua dan segala macamnya,”tandasnya. (Ichsan)
















