AMPAR.ID, JAMBI – Mengingat industri hulu minyak dan gas bumi (migas) merupakan sektor kerja dengan tingkat risiko tinggi (high risk), aspek keselamatan kerja menjadi harga mati yang tidak dapat ditawar oleh siapa pun, termasuk bagi awak media.
Hal ini terlihat dalam rangkaian tahunan Media Field Trip 2026 yang diselenggarakan oleh SKK Migas Perwakilan Sumbagsel bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Sebanyak 60 jurnalis yang terlibat diwajibkan mengikuti prosedur penapisan kesehatan (Daily Check Up) medis secara ketat sebelum diizinkan memasuki area operasional Zona 1 Field Jambi, Selasa (23/6/2026).
Pemeriksaan medis tersebut meliputi pengecekan tekanan darah, suhu tubuh, hingga kondisi fisik umum. Setelah dinyatakan lolos screening, para jurnalis dibekali safety briefing mendalam mengenai jalur evakuasi, titik kumpul darurat, kewajiban Alat Pelindung Diri (APD), serta larangan membawa barang berbahaya ke area kerja.
“Industri hulu migas punya risiko tinggi. Satu kelalaian kecil bisa berakibat fatal. Karena itu, kami menerapkan standar HSSE yang sama untuk semua, baik pekerja, tamu, maupun rekan media,” ujar perwakilan Fungsi HSSE PEP Jambi saat memimpin pengarahan keselamatan.
Pjs Manager Jambi Field, Alfian Mayando, menegaskan bahwa media adalah mitra strategis. Menurutnya, melalui kunjungan langsung ke lapangan, publik dapat melihat dengan jelas bahwa Pertamina EP Jambi menjalankan operasi migas secara aman, andal, dan bertanggung jawab.
Senada dengan itu, Kurnia Ari Wijayanti selaku perwakilan SKK Migas Sumbagsel menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan investasi penting. SKK Migas tidak hanya fokus mencari cadangan energi, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat melalui media mengenai proses pengeboran hingga dampaknya pada peningkatan ekonomi warga sekitar.
Dalam kunjungan tersebut, para jurnalis juga disuguhkan Atraksi Fire Ground HSSE. Tim penanggulangan keadaan darurat memamerkan simulasi pemadaman kobaran api secara taktis. Tim HSSE menyatakan komitmen response time (waktu respons) maksimal 15 menit jika terjadi insiden di lapangan, dengan penanganan spesifik menggunakan air untuk pemukiman warga atau cairan busa (foam) khusus untuk memadamkan minyak. (red)
















